Seni Ukir

Seni ukir Melayu merupakan ungkapann dinamika kehidupan masyarakat dalam menterjemahkan alam dan menuangkannya dalam karya-karya sen. Berbagai motif biasanya ditampilkan dalam bentuk garis-garis lengkung, atau kombinasi garis-garis lengkung tersebut dengan lingkaran-lingkaran elastis, tidak terputus, diukir secara dinamis dan indah. Apabila bermotif dari berbagai jenis flora, maka disimbolkan dalam akar-akar yang menjalar atau bunga-bunga yang sedang mekar. Pada umumnya seni ukir Melayu menghiasai berbagai ornament rumah-rumah Melayu tradisional seperti jendela, pintu, tangga, bagia-bagian rumah lainnya.

Bentuk utama dari ukiran Melayu Lingga tampak pada penempatan momtif dalam komposisi bidang yang memanjang, yang segera terlihat pada ukiiran-ukiran timbul maupun terbenam. Garis-garis lemas yang serasi ditampilkan dengan garis-garis patah, kemudian diselingi dengan gambar-gambar sayap yang gemulai, oleh karenannya ukiran Melayu Lingga lebih menampilkan gambar burung, serangga atau kupu-kupu.

Pengaruh Arab terlihat dari abstrak hewan-hewan air khususnya ikan dengan sisik yang melengkung memberi kesan tulisan Arab. Pengaruh India dan Cina terlihat bila tampilan motif memakai gambar-gambar ular atau ular naga. Sedangkan pengaruh barat juga terlihat dalam tarikan garis-garis lengkung daun-daunan. Namun demikian, seni ukir Melayu lebih didominan dari motif flora sebagai cerminan jiwa masyarakat Melayu didaerah ini.

Simbolisasi flora dalam bentuk variasi-variasi gemulai didalam seni ukir Melayu merupakan mencerminkan kelembutan dan ungkapan perasaan indah masyarakatnya. Selain itu, juga merupakan ungkapan kebebasan, kelembutan dan jauh dari sikap kasar.

Secara umum, seniukir Melayu termasuk didalamnya Melayu Lingga secara umum terbagi dalam lima macam yakni Haut Relief (relief tinggi), Demi Relief (relief setengah tinggi), Bos Relief (relief rendah), Relief Encreuse (relief tenggelam) dan A jour (ukiran kerawang).

Haut Relief pada umumnya dijumpai diistana-istana, perahu-perahu, masjijd, pilar rumah atau batu-batu nisan. Jenis ini lebih menonjolkan seni tiga dimensi satu objek sehingga mendekati bentuk patung atau berhala. Pengaruh Islam yang sangat kuat dalam masyarakat Melayu tidak membenarkan hal ini, sehingga Haut relief tidak lagi memasang motif manusia atau binatang dan diganti dengan tumbuh-tumbuhan.

Sedangkan Demi Relief masih memberikan citra patung berhla. Tetapi karena diubah dengan motif flora yang dihiasi tulisan Arab, gaya ini bisa diterima masyarakat dan bahkan dipahatkan pada masjid-masjid, istana dan batu nisan. Bas Relief lebih natural dan hanya sedikit kreasi abstrak. Tampilan tumbuhan dan hewan-hewan begitu realistis sehingga mengundang cermin kehidupan yang sebenarnya dan dapat mudah dinikmati. Relief Encreuse banyak dipahatkan pada benda-benda keras seperti senjata, keris, tombak, pedang atau perisai, jarang sekali dipakai untuk peralatan rumah tangga, karena relief ini tenggelam, pengukir kurang bebas menampilkan motif utama karyanya. Lagipula, memahat ukiiran tenggelam memerlukan ketekunan mendalam dan waktu lama. Jenis ukiran ini dapat dikatakan sebagai kebalikan dari jenis ukiran timbul.

Beberapa jenis motif ukiran yang sering terdapat di bangunan rumah-rumah Melayu tradisional adalah Bintang-bintang, Naga Melayu, Rusa, Harimau duduk, Kupu-kupu, berbagai jenis bunga seperti Bunga Kelapa, Bunga Panah Betina, Anggur, Awan Berarak, Bela Ketupat, Bunga Tabur, Bunga-bunga, Bunga Bakung, Pangkal Kepala Kain, Pucuk Rebung, dan Siku Keluang.

Sebagian daerah Melayu Lingga, Lingga memiliki seni ukir khas yang menjadi kekayaan budaya sejak kerajaan Riau-Lingga dahulu. Seni ukiran Melayu Lingga umumnya ditemukan pada ukirann kayu, perunggu, perak, emas, atau pada bahan ukir lainnya. Seni ukir ini biasanya diajarkan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bentuk  ukiran Melayu Lingga mengacu kepada motif-motif Melayu yang khas seperti lariknya yang tdak patah-patah dan memiliki lengkungan yang bebas.

Berdasarkan teknik pembuatannya, ukiran dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu ukiran tembus dan ukiran datar. Ukiran tembus merupakan ukiran yang dimulai dari sisi luar tembus kesisi dalam dari relief yang dibuat. Ukiran biasanya bisa dilihat  pada bangunan rumah tradisional Melayu seperti selembayung, sayap laying-layang, ventilasi, mimbar masjid, kisi-kisi jendela, dan ukiran pada  nisan makam. Sedangkan ukiran data hanya mengukir pada bagian luar saja dari motif yang hendak dibuat relief. Bentuk ukiran ini biasanya terdapat pada daun, pintu, jendela, dan sebagian dinding dan rumah-rumah Melayu, tiang rumah Melayu bagian luar, tanngga, peralatan rumah tangga, dan senjata(keris, parang, dan sebagainya).

Motif pada ukiran Melayu Lingga tidak hanya berupa gambar dan menjadi hiasan semata, tetapi mempunyai makna dan falsafah tertentu yang merupakan nilai-nilai luhur budaya Melayu. Secara umum, Ragam ukiran Melayu mempunyai dua fungsi yaitu sebagai hiasan dan penyebar luasan nilai- luhur budaya Melayu.

Tergusurnya zaman kerajaan secara langsung telah ikut memudarkan seni ukir dan ragam motif itu sendiri. Perajin ukiran telah berkurang jauh daripada sebelumnya jika tidak mau dikatakan tidak ada.