LEKAR

Pohon Nipah memberi manfaat bagi masyarakat dalam segi kerajinan tangan. Lidi daun nipah bisa digunakan sebagai bahan anyaman untuk membuat leka yakni tempat alas periuk, kuali dan cerek yang sedang dipakai. Agar tidak mengotori lantai atau tempat meletak dari noda hitam arang periuk, kuali dan cerek yang sedang digunakan sebagai… Read more“LEKAR”

JANGKI

Jangki merupakan wadah anyaman berbahan bilah tumbuhan bernama sampit. Digunakan oleh masyarakat nelayan di kampung Dungun, Belungkur dan sekitarnya untuk mengisi hasil laut seperti kerang, siput dan ketam. Jangki dianyam tidak rapat sehingga mempunyai celah yang berfungsi memudahkan keluarnya air dari dalam wadah. Jangki mempunyai tali sandang yang biasa dibuat… Read more“JANGKI”

AMBUNG

Ambung merupakan keranjang besar berbahan anyaman rotan dan dibawa dipunggung dengan tiga tali sandang yakni satu tali disangkut di kepala dan dua tali di sangkut di bahu kiri kanan. Ambung adalah peralatan tradisional Melayu Lingga yang sudah sejak lama ada. Bahan pembuat berasal dari rotan udang dan talinya berbahan kulit… Read more“AMBUNG”

RAGA

Raga merupakan anyaman dari bilah kulit pohon sampet dan menggunakan bingkai rotan. Anyaman dan bingkai diikat dengan rotan halus. Raga digunakan oleh masyarakat untuk mengisi bumbubumbu dapur ataupun bahan makanan seperti ikan salai. Bahanbahan pembuat raga dibeli atau dicari pengrajin sendiri di hutan sekitar kampung. Wilayah pengrajin raga terdapat juga… Read more“RAGA”

TIKAR PANDAN

Tikar tradisional Lingga adalah tikar pandan yang berbahan pandan berduri yang tumbuh di tepi laut. Tikar tradisional berbahan pandan digunakan masyarakat untuk alas yang dipakai sehari-hari seperti untuk menghidangkan makanan, shalat, tidur, dan menerima tamu. Ukuran tikar yang dibuat menurut hasta atau pun jengkal pengrajin. Ukuran yang dibuat bermacam-macam sesuai… Read more“TIKAR PANDAN”

DARI KOTA REBAH (KOTA LAMA) KE JOHOR, JULI 1688

Setelah Sultan Abdul Jalil memerintah, penggantinya berturut-turut adalah Sultan Ibrahim Syah berkedudukan di Riau, kemudian Sultan Mahmud Syah II. Pada masa Sultan Mahmud Syah II memegang kekuasaan, usianya masih sangat muda yaitu sekitar 10 tahun. Oleh karena itu, kekuasaan dalam pemerintahan dijalankan oleh paduka Raja Tun Abdul Jalil. Pada 1688,… Read more“DARI KOTA REBAH (KOTA LAMA) KE JOHOR, JULI 1688”

PEMBUKAAN KOTA LAMA SEBAGAI PUSAT KERAJAAN

Pemindahan pusat kerajaan dari satu tempat ke tempat lainnya sudah mentradisi pada Kemaharajaan Melayu. Selain ke tempat baru, adakalanya kembali ke bekas pusat kerajaan. Hal ini terjadi sejak awal berdirinya Kerajaan Semenanjung Melayu berpusat di Bentan atau Bintan sekarang bernama Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Berbagai penyebab terjadinya hal tersebut… Read more“PEMBUKAAN KOTA LAMA SEBAGAI PUSAT KERAJAAN”

SEKILAS TENTANG ISTERI DAN ANAK-ANAK SULTAN MAHMUD RI’AYAT SYAH

Adalah Sultan Mahmud RI’AYAT SYAH semasa hidupnya melakukan empat kali pernikahan, yang dapat hidup rukun damai bersama empat isterinya. Pernikahan yang paling bersejarah dan dalam rangka semakin memperkokoh persaudaraan Melayu-Bugis, maka pada tahun 1803 Sultan Mahmud Riayat Syah menikah untuk yang keempat kalinya yakni dengan Engku Puteri Raja Hamidah ibni… Read more“SEKILAS TENTANG ISTERI DAN ANAK-ANAK SULTAN MAHMUD RI’AYAT SYAH”